Sebagai akibat dari makin meluasnya wilayah kekuasaan Islam keluar melintasi jazirah Arab ke negeri-negeri yang penduduknya asing dengan bahasa lisan dan tulisan Arab dan tentunya tidak sedikit di antaranya berkeinginan untuk mendalami ajarannya, maka para ulama merasa perlu melakukan suatu usaha untuk memudahkan mereka membaca, menelaah dan mengkajinya. Terlebih lagi, mengingat al-Qur’an di awal-awal penyebarannya belum berbentuk sesempurna yang di perpegangi sekarang ini.
Upaya untuk menganalisasi struktur bahasa al-Qur’an dan mengungkap kandungan maknanya direalisasikan kemudian oleh beberapa ulama/mufassirin. Mereka semakin giat melakukan pengkajian/penulisan (tafsir) al-Qur'an di samping sebagai usaha untuk memberikan pemahaman dan menerangkan maksud ayat-ayat suci al-Qur'an, juga sebagai jawaban terhadap tuntutan zaman yang dihadapi tiap generasi. Hal ini terus berlenjut dari waktu ke waktu sehingga telah melahirkan sejumlah karya penafsiran, baik untuk tujuan ilmiah maupun berupa tulisan bebas dengan tujuan pencerahan qalbu.
Demikian, semangat untuk mendalami dan menggali al-Qur'an tidak pernah terputus dan ini semakin menguatkan bahwa al-Qur'an adalah kalamullah yang abadi tidak pernah pudar dari perubahan zaman, bahkan ia menjadi sumber ideal sekaligus menggambarkan factual kehidupan. Tema-tema yang diangkat pun agak bervariasi, bergantung kepada latar belakang/disiplin ilmu dan kecendrungan penulisnya dan –biasanya- tidak lepas dari perkembangan sosio-politik di wilayah pada saat karya tafsir tersebut disusun serta untuk menjawab dan merespon kebutuhan masyarakat dengan keanekaragaman latar belakang tiap individu dan pola pikirnya.
B. Interpretasi Linguistik: Langkah Awal Mendekati Makna Ayat
Tentunya untuk lebih memudahkan kajian tafsir (penafsiran) sebagaimana dimaksud pada pendahuluan di atas diperlukan sebuah metode dan tehnik dalam mendekati sebuah ayat yang akan ditafsir sehingga akan didapatkan pemahaman yang utuh terhadap ayat tersebut dengan melihat segala keterkaitannya. Metode ini kemudian dipopulerkan dengan istilah "tehnik intepretasi" dalam metodologi pengkajian tafsir yang meliputi: Interpretasi tekstual, interpretasi linguistic, interpretasi sistemik, interpretasi sosio-historis, interpretasi teleologis, interpretasi cultural, interpretasi logis dan interpretasi ganda .
Salah satu dari tehnik interpretasi tersebutkan yakni "Interpretasi Linguistik" oleh penulis akan diketengahkan secara khusus pembahasannya, sebab satu hal yang sangat mendasar pada saat mulai mendekati sebuah ayat adalah bagaimana memberikan pemaknaan terhadap lafazh serta uslub yang ada dengan melihat segala keterkaitannya, mulai dari huruf yang menyertainya, lafazh lain sebagai pelengkap sampai kedudukan lafazh tersebut dalam sebuah kalimat. Dari sini pulalah nantinnya akan ditentukan apakah ia bermakna majazi atau haqiqi. Olehnya itu, kemampuan dalam menelaah bahasa Arab – karena dengan bahasa inilah al-Qur'an diturunkan – sangat diperlukan.
Meskipun penafsiran dengan corak kebahasaan dewasa ini kadang dianggap akan membawa kita kepada pemahaman al-Qur’an yang kurang utuh, penulis masih melihat sebagai sebuah kebutuhan terutama bagi yang berkecimpung dalam pengkajian bahasa. Komentar Amin al-Khuli terhadap tafsir dengan corak dan pendekatan kebahasaan bahwa studi sastra dan bahasa atas teks al-Qur’an dapat membatasi subjektifitas interpreter , patut digaris bawahi, di samping kritikannya terhadap beberapa ilmuwan yang cenderung menafsirkan al-Qur’an berdasarkan atas tujuan theologis dan ideologi mereka.
Tehnik Interpretasi Linguistik sebagai sebuah cara untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an dengan menggunakan kaedah-kaedah kebahasaan meliputi unsur-unsur dalam ilmu linguistic itu sendiri, yakni: semantic etimologis, morfologis, leksikal, gramatikal dan semantic retorikal
Dasar penggunaan penggunaannya dipahami dari QS. Yusuf (12): 2
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) sebagai bacaan berbahasa Arab agar kalian berakal/memahaminya.
Makna yang serupa dengan ini juga Allah jelaskan dalam surat-surat: al-Ra’d: 37, al-Nahl:103, al-Syu’ara: 195, Thaha: 113, al-Zumar: 128, Fushshilat: 3, al-Syura: 7, al-Zukhruf: 3, dan al-Ahqaf: 12. berdasarkan kenyataan itu, maka sangat masuk akal bila penguasaan bahasa Arab dijadikan salah satu criteria dalam memahami Al-Qur'an. Dalam kaitan ini kiranya tidak berlebihan bila Mujahid, seorang tokoh mufassir di kalangan tabi’in menegaskan: ”Tidak wajar bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat membicarakan sesuatu tentang kandungan kitab Allah sebelum mendalami bahasa Arab”.
Berikut ini uraian singkat dari beberapa unsur yang tercakup dalam interpretasi linguistic pada pengkajian Metodologi Tafsir:
1. Interpretasi Etimologis
Secara umum semantic adalah cabang linguistik yang membahas arti dan makna, dan semantik etimilogis sebagaiaman dimaksud dalam tulisan ini adalah ilmu yang membahas aspek arti dari struktur huruf dasar bahasa Arab, atau dalam pengertian lain pengetahuan yang mengkaji akar kata bahasa Arab. Ilmu ini dikenal pula dengan istilah Fiqh al-Lughah. Sebagai contoh dalam Qs. Al-Alaq (96): 1:
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan
Untuk menafsirkan kata "iqra' " dalam penggalan ayat di atas secara etimologi harus kembali pada pengertian bahasa dari iqra' itu, yang berarti bacalah. Kata ini berakar kata dengan huruf-huruf , ر ق, dan ا yang bermakna menghimpun. Karena itu kata عرفyang bermakna "membaca" secara etimologis bermakna "menghimpun informasi". Dengan demikian, maksud dari ayat ini adalah perintah kepada seseorang untuk menghimpun ayat-ayat sang pencipta.
Contoh lainnya ketika al-Shabuniy menafsirkan kata "rabb" dalam QS. al-Fatihah: 2:
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam
Dalam tafsirannya terhadap surah al-Fatihah, utamanya ayat kedua di atas, al-Shabuniy mendefinisikan kata "rabb" dengan melihat pengertian etimologinya yakni merupakan masdar yang bermakna al-tarbiyyah (pendidikan). Begitupun terhadap ayat lain yang dianalisa satu-persatu, walaupun tidak semua ayat tersebut ditafsir berdasar makna etimologisnya.
Begitu pula ketika Bint al-Syathi' menelusuri arti linguistic dari kata "atsar" dalam QS. al-Naziat (79): 37-39
• •
Bint al-Syathi' mengatakan bahwa kata al-atsar menurut bahasa adalah sisa sesuatu. Al-atsarah al-mukramah tabqa (sisa yang baik dan kekal) dan al-Baqiyyah min al-ilmi tu'tsar (sisa dari ilmu diikuti). Al-Atsr adalah cirri sebahagian kuku unta yang jejaknya diikuti, yakni apa yang tertinggal dari tandanya. Wa atsara fihi ta'tsiran (dia meninggalkan bekas yang kekal padanya) sementara al-itsar diartikan dengan melebihkan dan mengutamakan (al-tafdhili), sebagaimana disyaratkan dalam QS. Yusuf (12): 91
•
Mereka berkata: "Demi Allah, Sesungguhnya Allah Telah melebihkan kamu atas kami, dan Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)
2. Interpretasi Morfologis
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari pembentukan kata, yang menyangkut struktur internal kata. Seperti kata "tertidur" yang terdiri dari dua morfem, yakni "ter" dan tidur" atau dalam definisi yang lain ilmu yang membahasperubahan struktur bunyi bahasa sebab penambahan atau pengurangan huruf bahkan perubahan bunyi mempengaruhi makana kata. Dalam bahasa Arab morfologi ini menjadi ilmu tersendiri yakni ilm al-Sharf. Ilm al-Sharf mempelajari perubahan bentuk-bentuk kata yang disesuaikan dengan wazan-nya. Di samping itu, dengan sharf dapat ditunjukkan bahwa perubahan bentuk itu membawa perubahan fungsi dan arti kata sehubungan dengan penggunaannya dalam kalimat. Contoh kalimat:
يركب المدير السيارة
Dengan kalimat: يسافر المدير راكبا السيارة
Sepintas kedua kalimat ini mempunyau makna yang mirip, sama-sama pergi dengan berkendaraan. Tetapi ketika melihat bentuk dari masing kata yang digaris bawahi itu sudah berubah. Kalimat pertama berbentuk fi'il mudhari, sedangkan kalimat kedua berbentuk masdar. Jadi perubahan bentuk kata dari wazan kata dasar bahasa arab mempunyai makna dan fungsi yang beraneka.
Demikian pun dalam dalam tafsir al-Qur'an, misalnya ayat الرحمن الرحيم dalam QS. al-Fatihah (3): Kata al-Rahman al-Rahim bila ditinjau secara etimologis berasal dari akar kata رحم – يرحم , tetapi karena mengalami perubahan bentuk kata, meluas dari arti morfologisnya kata rahima akhirnya menjadi rahman dan rahim yang dinisbahkan kepada sifat Allah swt. al-Rahman-Nya Allah- sebagaimana dikutip al-Suyuthi dari Ibn abi Hatim - berlaku untuk semua makhluk sedangkan al-rahim-Nya dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja.
Contoh yang lain kata امـام dalam QS. al-Isra ayat 71:
• •
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan Kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Ayat ini menjelaskan bahwa di akhirat kelak manusia akan dipanggil melalui imam mereka. Menurut al-Zamakhsyari, kata imam dalam ayat ini berarti sesuatu yang dijadikan imam (pemimpin) oleh orang yang bersangkutan seperti Nabi, pemimpin agama, kitab atau agama. Sementara al-Maraghi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan imam adalah kitab catatan amal seseorang selama hidup di dunia. Pendapat ini didasarkannya pada firman Allah dalam QS. Yasin : 12:
•
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang Telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu penulis kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Dari uraian tersebut terlihat dengan jelas baik oleh al-Zamkhsyari, seorang tokoh mufassir abad klasik, maupun al-Maraghi, mufassir kontemporer, tidak mengatakan bahwa kata imam dalam ayat itu jamak dari kata "أم" yang berarti ibu, sebab ada pendapat – sebagaimana diungkapkan oleh al-Zamakhsyari - yang mengatakan bahwa إمام tersebut adalah jamak dari kata أم, sehingga ayat tersebut berkonotasi bahwa di akhirat kelak setiap manusia akan dipanggil melalui nama ibunya. Hikmah dalam memanggil mereka dengan cara seperti itu ialah unruk mrnghormati Nabi Isa as, menyatakan kemuiaan Hasan dan Husain serta untuk tidak mempermalukan anak zina.
Al-Zamakhsyari sendiri menyatakan bahwa penafsiran seperti itu adalah bid’ah: “Mana yang lebih berat bid’ahnya ucapan mereka araukah hikmah yang dikandungnya?” dan al-Dzahabi membenarkan pendapat al-Zamakhsyari tersebut: ”benarlah apa yang disampaikan oleh al-Zamakhsyari bahwa tafsiran serupa itu memang salah satu bentuk bid’ah dalam tafsir”
Jika dilihat dari sudut morfologis nyatalah bahwa tafsiran seperti itu sangat jauh dari kaedah saraf yang berlaku sejak dulu sampai sekarang. Tidak dijumpai dalam kamus-kamus bahasa Arab kata إمام adalah jamak dari kata أم dan tidak pula dijumpai pemakaian serupa itu dalam kitab-kitab berbahasa Arab.
3. Interpretasi Leksikal
Leksikal adalah istilah dalam linguistic yang bersangkutan dengan kosa kata (mufradat). Ada pula istilah leksikon yang berarti kosa kata atau daftar istilh dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya. Interpretasi leksikal yang dimaksudkan disini adalah makna yang diperoleh dari kamus bahasa. Atau menafsirkan kosa kata al-Qur'an dengan menggunakan makna-makna menurut system entri dalam kamus bahasa. Tetapi karena system penyususnan kamus adalah kemoderenan, maka tehnik ini agak rawan. Artinya pemberian makna entri berdasarkan frekwensi penggunaan makna kata pada waktu penerbitan zaman kamus terkait.
Sebagai contoh kata قرأ, secara leksikal bermakna "membaca". Olehnya itu, ayat pertama dari surat al-Alaq diterjemahkan dan ditafsirkan berdasrkan makna tersebut.
4. Interpretasi Sintaksis (Gramatikal)
Sintaksis adalah cabang linguistic yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Sintaksis atau gramatikal ini harus sesuai dengan tata bahasa karena berurusan dengan struktur antar-kata. Kalau morfologis menyangkut struktur internal kata, maka sintaksis ini menyangkut struktur eksternal. Dalam bahasa Arab, makna sintaksis (gramatikal) ini dikenal dengan ilmu nahwi, yang pembahasannya terfokus pada kedudukan kosa kata atau frasa dan klausa.
Untuk memahami kaedah-kaedah ilmu nahwu (gramatikal) yang terdapat dalam Alquran itu memang agaklah sulit, karena ayat-ayat itu adalah kalam Allah yang mana makna dan kandunannya hanyalah Allah yang lebih mengetahui. Tetapi oleh sebagian mufassir berusaha menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan menggunakan pendekatan kebahasaan, dalam hal ini dengan melihat sisi gramatikalnya.
Sebagai contoh:
قرأ محمد القران, ungkapan ini menginformasikan bahwa "Muhammad telah membaca Al-Qur'an". Jadi penekanannya pada subyek Muhammad. Pemahamnnya akan berubah bila obyeknya ditempatkan sebagai subyek utama, denga mengatakan القران قرأه محمد
Dengan demikian pemahamnnya ikut pula berubah sehingga "Al-Qur'anlah yang telah dibaca oleh Muhammad" bukan yang lain. Susunan seperti itu banyak dijumpai dalam Al-Qur'an, misalnya ayat 5 dari surat al-Fatihah إياك نعيد وإياك نستعين
Kata إيـاك yang terulang dua kali itu berfungsi sebagai obyek dari kata kerja نعيد dan نستعين Ayat ini mengandung makna bahawa hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan kepada-Nya pulalah kita minta pertolongan. Apabila kata إياك ditempatkan sesudah kata kerja tersebut maka penekanan makna serupa itu tidak terasa karena diungkapkan dalam bertuk biasa: penulis menyembahnu dan penulis minta tolong kepada-Mu.
Selain letak kata, perubahan fungsinya pun akan mempengaruhi makna yang dikandung oleh suatu kalimat. Seperti kata الله dan العلماء.yang terdapat dalam surat Fathir ayat 28:
•• ده
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Masing masing dapat dibaca dhammah dan dapat pula dibaca fathah. Apabila kata Allah dibaca fathah dan al-Ulama' dibaca dhammah maka ayat itu akan bermakna “Di antara hamba-hamba Allah hanya ulama-lah yang takut kepada-Nya. Sebaliknya jika kata Allah dibaca dhammah dan al-'Ulama' dibaca fathah maka maknanya akan berubah menjadi "Di antara hamba-hamba Allah itu hanya ulama-lah yang dihormatinya." Sebagian ulama mengakui bahwa memang ada bacaan seperti yang kedua itu. Timbulnya perbedaan yang kontradiktif tersebut disebabakan oleh berbedanya fungsi atau jabatan kata kedua kata tersebut. Pada pengertian yang pertama kata Allah berfungsi sebagai obyek (maf’ul bih) dan kata Ulama sebagai subyek (fa’il) sementara dalam pengertian yang kedua fungsi kedua lafaz tersebut dipertukarkan.
Dalam uraian di atas, tampak dengan jelas bahwa perbedaan struktur kata dalam suatu kalimat dan berlainan jabatan yang didudukinya dapat mengakibatkan perubahan makna yang besar.
5. Interpretasi Retorikal
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia retorika berarti studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang dan bahasa efektif dengan ungkapan (uslub) nan indah. Interpretasi Retorikal yang dimaksudkan di sini adalah seni Balaghah yang terkandung dalam bahasa al-Qur'an yang secara ilmiah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar di antara bermacam-macam uslub.
Ilmu Balaghah dikenal dengan tiga bagian:
Pertama, Ilmu Ma'ani yang mengkaji makna kata yang terpilih untuk dikomunikasikan kepada audiens. Dalam bagian ini meliputi pembahasan makna antara khabar atau insya. Sebagai contoh:
Kalimat: عبد الله قائم, tidak sama maknanya dengan إن عبد الله قائم dan إن عبد الله لقائم Hal ini disebabakan karena kalimat pertama tidak memakai huruf ta’kid إن; sementara kalimat yang kedua memakainya dan kalimat yang ketiga memakai dua huruf ta’kid sekaligus yaitu إن dan ل
Meskipun ketiga redaksi kalimat itu terlihat hampir sama, namun berbeda dari sudut pemakaian dan maknanya. Redaksi yang pertama hanya berisi pemberitahuan bahwa Abdullah berdiri; sedang yang keduadimaksudkan untuk memberi penjelasan atau jawaban bagi pertanyaan; dan yang ketiga untuk menegaskan bahwa Abdullah benar-benar berdiri. Ungkapan yang pertama ditujukan kepada orang yang belum tahu bahwa Abdullah berdiri, karena itu ungkapannya tidak perlu memakai ta'kid. Redaksi yang kedua ditujukan kepada orang yang kelihatannya sedikit ragu, maka untuk menghilangkan keraguan itu disampaikan kepadanya berita dengan memakai satu huruf ta’kid. Adapun yang ketiga ditujukan kepada orang yang membantah bahwa Abdullah berdiri. Untuk menolak bantahan itulah maka kalimat yang disampaikan kepadanya disertai minimal dengan dua huruf ta’kid.
Dalam surat Yasin ayat 14 dan 16 terlihat redaksi kalimat yang hampir sama.
• (14)
(16)
14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya adalah orang-orang di utus kepadamu".
16. Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa Sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu".
Secara sekilas redaksi kedua ayat tersebut terlihat mirip, tetapi jika diperhatikan dengan seksama aan terlihat dengan jelas konotasi kedua ayat tersebut berbeda sekali. Perbedaan itu timbul disebabkan oleh berbedanya kondisi yang melatar belakangi lahirnya ungkapan tersebut. Redaksi yang pertama ditujukan kepada mereka yang kurang percaya atau ragu bahwa nabi Isa telah mengutus utusan kepasa mereka. Karena itu memakai satu huruf ta’kid untuk memperkuat pernyatan mereka. Tapi penduduk negeri yang menerima mereka, bukannya percaya, malah sebaliknya bertambah ingkar. Oleh karenanya pada redaksi yang kedua para utusan itu memakai tiga huruf ta’kid sekaligus yaitu sumpah (ربنا) dan huruf (إنا.dan ل)
Kedua, Ilmu Bayan, bagian dari ilmu balaghah yang mengkaji tata cara menyampaikan pesan kepada audiens dengan ungkapan yang tepat, singkat tetapi jelas dan kandungan maknanya luas. Dalam bidang ini yang menjadi obyek bahasan adalah tasybih, majaz, isti'arah, kinayah dan tamtsil. Contoh QS. al-Baqarah (2): 261
•
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Terhadap ayat di atas kita dapat lihat sebuah contoh dari pengungkapan tasybih, yakni orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah diumpamakan dengan sebutir benih (yang ditanam) dari bulir tersebut akan tumbuh lagi tujuh bulir dan di setiap bulirnya terdapat seratus biji.
Dalam QS.al-Rahman (55): 56-58:
"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan."
Dalam ayat di atas, Allah menyerupakan bidadari-bidadari yang tinggal di dalam syurga dengan permata yaqut dan marjan. Titik keserupaannya adalah pada kemurnian dan kecemerlangannya. Jika diurai, maka ayat di atas berstruktur: قصرات الطرف adalah musyabbah, الكاف adalah adat al-tasybih, الياقوت و المرجان adalah musyabbah bih, dan wajhu syabah adalah sama-sama murni dan cemerlang.
Yang ketiga Ilmu Badi' yang pengkajiaannya berkenaan dengan keindahan bahasa, baik dari segi keindahan secara lafdzi (Muhassinat al-Lafdziy) maupun keindahan ma'nawi (Muhassinat al-Ma'nawiy). Sebagi contoh:
QS. al-Rum (30): 55:
"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)".
Terdapat dua kata yang sejenis, namun artinya berbeda yakni kata "al-Sa'at" yang pertama bermakna hari kiamat dan yang kedua bemakna waktu terbatas.
Contoh lain yang masuk dalam kategori al-Saja' QS. al-Ikhlas 1-4:
•
" Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
C. Interpretasi Linguistik dalam Kajian Hermeneutika
Munculnya kemudian hermeneutika sebagai metode baru dalam penafsiran dengan teori-teori sosial dan kritik sejarahnya ternyata tidak serta merta mengeliminir aspek kebahasaan (interpretasi linguistic), sebab di antara pengertian hermeneutika yang berkembang di era modern, metodologi filologi dan pemahaman linguistic termasuk dalam cakupan pengkajiannya.
Schleirmacher mengungkapkan, sebagaimana yang dikutip oleh Sumaryono, bahwa ada dua tugas sentral hermeneutika yang identik satu sama lainnya, yaitu interpretasi gramatikal dan psikhologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang, sementara interpretasi psikhologis memungkinkan seseorang menangkap "setitik cahaya" pribadi pengarang.
Dengan demikian, pada dasarnya hermeneutika berkaitan erat dengan bahasa, yang diungkapkan baik melalui pikiran, wacana, maupun tulisan. Sehingga hermeneutika dapat dikatakan sebagai cara baru untuk "bergaul" dengan bahasa.
Akan pentingnya peran kebahasaan sebagai sarana untuk memahami wahyu (al-Qur'an), Muhammad 'Ata al-Sid mengungkapkan bahwa "sekalipun terdapat banyak disiplin dan jenis pengetahuan –yang terpakai utuk mendekati al-Qur'an- pengetahuan tentang bahasa (Arab) bersifat elementer dan harus mendahului segala hal lain.." Muhammad 'ata al-Sid juga menekankan untuk terus mencari dan menggali bahasa Arab asli yang terdapat dalam puisi dan prosa pra Islam, menguasai bahasa Arab bukan hanya penggunaannya saat ini, namu juga dalam bentuknya yang asli ketika wahyu diturunkan. Sebagaimana yang pernah dinasihatkan oleh Umar ibn Khatab kepada kaum muslimin agar mereka menjaga dan memperhatikan warisan pra Islam, bahwa "syair-syair 'Arablah yang menjadikan kalian bisa menjelaskan kitabmu (al-Qur'an) dan makna pebicaraanmu", demikian pula riwayat dari Ibn 'abbas: "syair adalah literature Arab. Jika terdapat kata dalam al-Qur'an yang diwahyukan kepada mereka (Arab pra Islam) tidak jelas, kemi merujuk balik kepada literature mereka untuk mencari penjelasannya". Komaruddin Hidayat juga menambahkan bahwa " adalah keistimewaan teks al-Qur'an yang sulit ditandingi oleh kitab suci lain mengingat autentisitas dan keunggulan bahasanya yang masih bisa dilacak ke masa lalu sehingga peristiwa sabda bisa dihadirkan dan dikonstruksikan lagi bagi kaum muslimin modern".
Pentingnya penuguasaan bahasa ini dikemukakan oleh Muhammad 'Ata al-Sid dalam rangka memperkenalkan metodologi hermeneutika al-Qur'an. Sebuah metodologi yang senantiasa berlangsung sebagai proses hermeneutis al-Qur'an sehingga pengikutnya tidak terbatas pada periode sejarah tertentu.
Dari penjelasan di atas, penulis menilai bahwa metodologi dengan bentuk apapun yang terpakai dalam menafsirkan sebuah kalimat terutama terhadap teks kitab suci senantiasa meletakkan peranan kebahasaan sebagai titik awal dalam mendekati sebuah permaknaan. Namun demikian, perlu untuk diperhatikan adalah interpretasi bahasa hanyalah sebagai pengantar dan alat untuk mengungkap makna lebih mendalam dan jangan sampai menjadi tujuan akhir.
Upaya untuk menganalisasi struktur bahasa al-Qur’an dan mengungkap kandungan maknanya direalisasikan kemudian oleh beberapa ulama/mufassirin. Mereka semakin giat melakukan pengkajian/penulisan (tafsir) al-Qur'an di samping sebagai usaha untuk memberikan pemahaman dan menerangkan maksud ayat-ayat suci al-Qur'an, juga sebagai jawaban terhadap tuntutan zaman yang dihadapi tiap generasi. Hal ini terus berlenjut dari waktu ke waktu sehingga telah melahirkan sejumlah karya penafsiran, baik untuk tujuan ilmiah maupun berupa tulisan bebas dengan tujuan pencerahan qalbu.
Demikian, semangat untuk mendalami dan menggali al-Qur'an tidak pernah terputus dan ini semakin menguatkan bahwa al-Qur'an adalah kalamullah yang abadi tidak pernah pudar dari perubahan zaman, bahkan ia menjadi sumber ideal sekaligus menggambarkan factual kehidupan. Tema-tema yang diangkat pun agak bervariasi, bergantung kepada latar belakang/disiplin ilmu dan kecendrungan penulisnya dan –biasanya- tidak lepas dari perkembangan sosio-politik di wilayah pada saat karya tafsir tersebut disusun serta untuk menjawab dan merespon kebutuhan masyarakat dengan keanekaragaman latar belakang tiap individu dan pola pikirnya.
B. Interpretasi Linguistik: Langkah Awal Mendekati Makna Ayat
Tentunya untuk lebih memudahkan kajian tafsir (penafsiran) sebagaimana dimaksud pada pendahuluan di atas diperlukan sebuah metode dan tehnik dalam mendekati sebuah ayat yang akan ditafsir sehingga akan didapatkan pemahaman yang utuh terhadap ayat tersebut dengan melihat segala keterkaitannya. Metode ini kemudian dipopulerkan dengan istilah "tehnik intepretasi" dalam metodologi pengkajian tafsir yang meliputi: Interpretasi tekstual, interpretasi linguistic, interpretasi sistemik, interpretasi sosio-historis, interpretasi teleologis, interpretasi cultural, interpretasi logis dan interpretasi ganda .
Salah satu dari tehnik interpretasi tersebutkan yakni "Interpretasi Linguistik" oleh penulis akan diketengahkan secara khusus pembahasannya, sebab satu hal yang sangat mendasar pada saat mulai mendekati sebuah ayat adalah bagaimana memberikan pemaknaan terhadap lafazh serta uslub yang ada dengan melihat segala keterkaitannya, mulai dari huruf yang menyertainya, lafazh lain sebagai pelengkap sampai kedudukan lafazh tersebut dalam sebuah kalimat. Dari sini pulalah nantinnya akan ditentukan apakah ia bermakna majazi atau haqiqi. Olehnya itu, kemampuan dalam menelaah bahasa Arab – karena dengan bahasa inilah al-Qur'an diturunkan – sangat diperlukan.
Meskipun penafsiran dengan corak kebahasaan dewasa ini kadang dianggap akan membawa kita kepada pemahaman al-Qur’an yang kurang utuh, penulis masih melihat sebagai sebuah kebutuhan terutama bagi yang berkecimpung dalam pengkajian bahasa. Komentar Amin al-Khuli terhadap tafsir dengan corak dan pendekatan kebahasaan bahwa studi sastra dan bahasa atas teks al-Qur’an dapat membatasi subjektifitas interpreter , patut digaris bawahi, di samping kritikannya terhadap beberapa ilmuwan yang cenderung menafsirkan al-Qur’an berdasarkan atas tujuan theologis dan ideologi mereka.
Tehnik Interpretasi Linguistik sebagai sebuah cara untuk menafsirkan ayat-ayat al-Qur'an dengan menggunakan kaedah-kaedah kebahasaan meliputi unsur-unsur dalam ilmu linguistic itu sendiri, yakni: semantic etimologis, morfologis, leksikal, gramatikal dan semantic retorikal
Dasar penggunaan penggunaannya dipahami dari QS. Yusuf (12): 2
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur'an) sebagai bacaan berbahasa Arab agar kalian berakal/memahaminya.
Makna yang serupa dengan ini juga Allah jelaskan dalam surat-surat: al-Ra’d: 37, al-Nahl:103, al-Syu’ara: 195, Thaha: 113, al-Zumar: 128, Fushshilat: 3, al-Syura: 7, al-Zukhruf: 3, dan al-Ahqaf: 12. berdasarkan kenyataan itu, maka sangat masuk akal bila penguasaan bahasa Arab dijadikan salah satu criteria dalam memahami Al-Qur'an. Dalam kaitan ini kiranya tidak berlebihan bila Mujahid, seorang tokoh mufassir di kalangan tabi’in menegaskan: ”Tidak wajar bagi orang yang mengaku beriman kepada Allah dan hari akhirat membicarakan sesuatu tentang kandungan kitab Allah sebelum mendalami bahasa Arab”.
Berikut ini uraian singkat dari beberapa unsur yang tercakup dalam interpretasi linguistic pada pengkajian Metodologi Tafsir:
1. Interpretasi Etimologis
Secara umum semantic adalah cabang linguistik yang membahas arti dan makna, dan semantik etimilogis sebagaiaman dimaksud dalam tulisan ini adalah ilmu yang membahas aspek arti dari struktur huruf dasar bahasa Arab, atau dalam pengertian lain pengetahuan yang mengkaji akar kata bahasa Arab. Ilmu ini dikenal pula dengan istilah Fiqh al-Lughah. Sebagai contoh dalam Qs. Al-Alaq (96): 1:
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan
Untuk menafsirkan kata "iqra' " dalam penggalan ayat di atas secara etimologi harus kembali pada pengertian bahasa dari iqra' itu, yang berarti bacalah. Kata ini berakar kata dengan huruf-huruf , ر ق, dan ا yang bermakna menghimpun. Karena itu kata عرفyang bermakna "membaca" secara etimologis bermakna "menghimpun informasi". Dengan demikian, maksud dari ayat ini adalah perintah kepada seseorang untuk menghimpun ayat-ayat sang pencipta.
Contoh lainnya ketika al-Shabuniy menafsirkan kata "rabb" dalam QS. al-Fatihah: 2:
Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam
Dalam tafsirannya terhadap surah al-Fatihah, utamanya ayat kedua di atas, al-Shabuniy mendefinisikan kata "rabb" dengan melihat pengertian etimologinya yakni merupakan masdar yang bermakna al-tarbiyyah (pendidikan). Begitupun terhadap ayat lain yang dianalisa satu-persatu, walaupun tidak semua ayat tersebut ditafsir berdasar makna etimologisnya.
Begitu pula ketika Bint al-Syathi' menelusuri arti linguistic dari kata "atsar" dalam QS. al-Naziat (79): 37-39
• •
Bint al-Syathi' mengatakan bahwa kata al-atsar menurut bahasa adalah sisa sesuatu. Al-atsarah al-mukramah tabqa (sisa yang baik dan kekal) dan al-Baqiyyah min al-ilmi tu'tsar (sisa dari ilmu diikuti). Al-Atsr adalah cirri sebahagian kuku unta yang jejaknya diikuti, yakni apa yang tertinggal dari tandanya. Wa atsara fihi ta'tsiran (dia meninggalkan bekas yang kekal padanya) sementara al-itsar diartikan dengan melebihkan dan mengutamakan (al-tafdhili), sebagaimana disyaratkan dalam QS. Yusuf (12): 91
•
Mereka berkata: "Demi Allah, Sesungguhnya Allah Telah melebihkan kamu atas kami, dan Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)
2. Interpretasi Morfologis
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari pembentukan kata, yang menyangkut struktur internal kata. Seperti kata "tertidur" yang terdiri dari dua morfem, yakni "ter" dan tidur" atau dalam definisi yang lain ilmu yang membahasperubahan struktur bunyi bahasa sebab penambahan atau pengurangan huruf bahkan perubahan bunyi mempengaruhi makana kata. Dalam bahasa Arab morfologi ini menjadi ilmu tersendiri yakni ilm al-Sharf. Ilm al-Sharf mempelajari perubahan bentuk-bentuk kata yang disesuaikan dengan wazan-nya. Di samping itu, dengan sharf dapat ditunjukkan bahwa perubahan bentuk itu membawa perubahan fungsi dan arti kata sehubungan dengan penggunaannya dalam kalimat. Contoh kalimat:
يركب المدير السيارة
Dengan kalimat: يسافر المدير راكبا السيارة
Sepintas kedua kalimat ini mempunyau makna yang mirip, sama-sama pergi dengan berkendaraan. Tetapi ketika melihat bentuk dari masing kata yang digaris bawahi itu sudah berubah. Kalimat pertama berbentuk fi'il mudhari, sedangkan kalimat kedua berbentuk masdar. Jadi perubahan bentuk kata dari wazan kata dasar bahasa arab mempunyai makna dan fungsi yang beraneka.
Demikian pun dalam dalam tafsir al-Qur'an, misalnya ayat الرحمن الرحيم dalam QS. al-Fatihah (3): Kata al-Rahman al-Rahim bila ditinjau secara etimologis berasal dari akar kata رحم – يرحم , tetapi karena mengalami perubahan bentuk kata, meluas dari arti morfologisnya kata rahima akhirnya menjadi rahman dan rahim yang dinisbahkan kepada sifat Allah swt. al-Rahman-Nya Allah- sebagaimana dikutip al-Suyuthi dari Ibn abi Hatim - berlaku untuk semua makhluk sedangkan al-rahim-Nya dikhususkan untuk orang-orang mukmin saja.
Contoh yang lain kata امـام dalam QS. al-Isra ayat 71:
• •
(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan Kitab amalannya di tangan kanannya Maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.
Ayat ini menjelaskan bahwa di akhirat kelak manusia akan dipanggil melalui imam mereka. Menurut al-Zamakhsyari, kata imam dalam ayat ini berarti sesuatu yang dijadikan imam (pemimpin) oleh orang yang bersangkutan seperti Nabi, pemimpin agama, kitab atau agama. Sementara al-Maraghi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan imam adalah kitab catatan amal seseorang selama hidup di dunia. Pendapat ini didasarkannya pada firman Allah dalam QS. Yasin : 12:
•
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan kami menuliskan apa yang Telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu penulis kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).
Dari uraian tersebut terlihat dengan jelas baik oleh al-Zamkhsyari, seorang tokoh mufassir abad klasik, maupun al-Maraghi, mufassir kontemporer, tidak mengatakan bahwa kata imam dalam ayat itu jamak dari kata "أم" yang berarti ibu, sebab ada pendapat – sebagaimana diungkapkan oleh al-Zamakhsyari - yang mengatakan bahwa إمام tersebut adalah jamak dari kata أم, sehingga ayat tersebut berkonotasi bahwa di akhirat kelak setiap manusia akan dipanggil melalui nama ibunya. Hikmah dalam memanggil mereka dengan cara seperti itu ialah unruk mrnghormati Nabi Isa as, menyatakan kemuiaan Hasan dan Husain serta untuk tidak mempermalukan anak zina.
Al-Zamakhsyari sendiri menyatakan bahwa penafsiran seperti itu adalah bid’ah: “Mana yang lebih berat bid’ahnya ucapan mereka araukah hikmah yang dikandungnya?” dan al-Dzahabi membenarkan pendapat al-Zamakhsyari tersebut: ”benarlah apa yang disampaikan oleh al-Zamakhsyari bahwa tafsiran serupa itu memang salah satu bentuk bid’ah dalam tafsir”
Jika dilihat dari sudut morfologis nyatalah bahwa tafsiran seperti itu sangat jauh dari kaedah saraf yang berlaku sejak dulu sampai sekarang. Tidak dijumpai dalam kamus-kamus bahasa Arab kata إمام adalah jamak dari kata أم dan tidak pula dijumpai pemakaian serupa itu dalam kitab-kitab berbahasa Arab.
3. Interpretasi Leksikal
Leksikal adalah istilah dalam linguistic yang bersangkutan dengan kosa kata (mufradat). Ada pula istilah leksikon yang berarti kosa kata atau daftar istilh dalam suatu bidang disusun menurut abjad dan dilengkapi dengan keterangannya. Interpretasi leksikal yang dimaksudkan disini adalah makna yang diperoleh dari kamus bahasa. Atau menafsirkan kosa kata al-Qur'an dengan menggunakan makna-makna menurut system entri dalam kamus bahasa. Tetapi karena system penyususnan kamus adalah kemoderenan, maka tehnik ini agak rawan. Artinya pemberian makna entri berdasarkan frekwensi penggunaan makna kata pada waktu penerbitan zaman kamus terkait.
Sebagai contoh kata قرأ, secara leksikal bermakna "membaca". Olehnya itu, ayat pertama dari surat al-Alaq diterjemahkan dan ditafsirkan berdasrkan makna tersebut.
4. Interpretasi Sintaksis (Gramatikal)
Sintaksis adalah cabang linguistic yang menyangkut susunan kata-kata di dalam kalimat. Sintaksis atau gramatikal ini harus sesuai dengan tata bahasa karena berurusan dengan struktur antar-kata. Kalau morfologis menyangkut struktur internal kata, maka sintaksis ini menyangkut struktur eksternal. Dalam bahasa Arab, makna sintaksis (gramatikal) ini dikenal dengan ilmu nahwi, yang pembahasannya terfokus pada kedudukan kosa kata atau frasa dan klausa.
Untuk memahami kaedah-kaedah ilmu nahwu (gramatikal) yang terdapat dalam Alquran itu memang agaklah sulit, karena ayat-ayat itu adalah kalam Allah yang mana makna dan kandunannya hanyalah Allah yang lebih mengetahui. Tetapi oleh sebagian mufassir berusaha menafsirkan ayat-ayat tersebut dengan menggunakan pendekatan kebahasaan, dalam hal ini dengan melihat sisi gramatikalnya.
Sebagai contoh:
قرأ محمد القران, ungkapan ini menginformasikan bahwa "Muhammad telah membaca Al-Qur'an". Jadi penekanannya pada subyek Muhammad. Pemahamnnya akan berubah bila obyeknya ditempatkan sebagai subyek utama, denga mengatakan القران قرأه محمد
Dengan demikian pemahamnnya ikut pula berubah sehingga "Al-Qur'anlah yang telah dibaca oleh Muhammad" bukan yang lain. Susunan seperti itu banyak dijumpai dalam Al-Qur'an, misalnya ayat 5 dari surat al-Fatihah إياك نعيد وإياك نستعين
Kata إيـاك yang terulang dua kali itu berfungsi sebagai obyek dari kata kerja نعيد dan نستعين Ayat ini mengandung makna bahawa hanya kepada Allah-lah kita menyembah dan kepada-Nya pulalah kita minta pertolongan. Apabila kata إياك ditempatkan sesudah kata kerja tersebut maka penekanan makna serupa itu tidak terasa karena diungkapkan dalam bertuk biasa: penulis menyembahnu dan penulis minta tolong kepada-Mu.
Selain letak kata, perubahan fungsinya pun akan mempengaruhi makna yang dikandung oleh suatu kalimat. Seperti kata الله dan العلماء.yang terdapat dalam surat Fathir ayat 28:
•• ده
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.
Masing masing dapat dibaca dhammah dan dapat pula dibaca fathah. Apabila kata Allah dibaca fathah dan al-Ulama' dibaca dhammah maka ayat itu akan bermakna “Di antara hamba-hamba Allah hanya ulama-lah yang takut kepada-Nya. Sebaliknya jika kata Allah dibaca dhammah dan al-'Ulama' dibaca fathah maka maknanya akan berubah menjadi "Di antara hamba-hamba Allah itu hanya ulama-lah yang dihormatinya." Sebagian ulama mengakui bahwa memang ada bacaan seperti yang kedua itu. Timbulnya perbedaan yang kontradiktif tersebut disebabakan oleh berbedanya fungsi atau jabatan kata kedua kata tersebut. Pada pengertian yang pertama kata Allah berfungsi sebagai obyek (maf’ul bih) dan kata Ulama sebagai subyek (fa’il) sementara dalam pengertian yang kedua fungsi kedua lafaz tersebut dipertukarkan.
Dalam uraian di atas, tampak dengan jelas bahwa perbedaan struktur kata dalam suatu kalimat dan berlainan jabatan yang didudukinya dapat mengakibatkan perubahan makna yang besar.
5. Interpretasi Retorikal
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia retorika berarti studi tentang pemakaian bahasa secara efektif dalam karang-mengarang dan bahasa efektif dengan ungkapan (uslub) nan indah. Interpretasi Retorikal yang dimaksudkan di sini adalah seni Balaghah yang terkandung dalam bahasa al-Qur'an yang secara ilmiah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar di antara bermacam-macam uslub.
Ilmu Balaghah dikenal dengan tiga bagian:
Pertama, Ilmu Ma'ani yang mengkaji makna kata yang terpilih untuk dikomunikasikan kepada audiens. Dalam bagian ini meliputi pembahasan makna antara khabar atau insya. Sebagai contoh:
Kalimat: عبد الله قائم, tidak sama maknanya dengan إن عبد الله قائم dan إن عبد الله لقائم Hal ini disebabakan karena kalimat pertama tidak memakai huruf ta’kid إن; sementara kalimat yang kedua memakainya dan kalimat yang ketiga memakai dua huruf ta’kid sekaligus yaitu إن dan ل
Meskipun ketiga redaksi kalimat itu terlihat hampir sama, namun berbeda dari sudut pemakaian dan maknanya. Redaksi yang pertama hanya berisi pemberitahuan bahwa Abdullah berdiri; sedang yang keduadimaksudkan untuk memberi penjelasan atau jawaban bagi pertanyaan; dan yang ketiga untuk menegaskan bahwa Abdullah benar-benar berdiri. Ungkapan yang pertama ditujukan kepada orang yang belum tahu bahwa Abdullah berdiri, karena itu ungkapannya tidak perlu memakai ta'kid. Redaksi yang kedua ditujukan kepada orang yang kelihatannya sedikit ragu, maka untuk menghilangkan keraguan itu disampaikan kepadanya berita dengan memakai satu huruf ta’kid. Adapun yang ketiga ditujukan kepada orang yang membantah bahwa Abdullah berdiri. Untuk menolak bantahan itulah maka kalimat yang disampaikan kepadanya disertai minimal dengan dua huruf ta’kid.
Dalam surat Yasin ayat 14 dan 16 terlihat redaksi kalimat yang hampir sama.
• (14)
(16)
14. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; Kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya adalah orang-orang di utus kepadamu".
16. Mereka berkata: "Tuhan kami mengetahui bahwa Sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu".
Secara sekilas redaksi kedua ayat tersebut terlihat mirip, tetapi jika diperhatikan dengan seksama aan terlihat dengan jelas konotasi kedua ayat tersebut berbeda sekali. Perbedaan itu timbul disebabkan oleh berbedanya kondisi yang melatar belakangi lahirnya ungkapan tersebut. Redaksi yang pertama ditujukan kepada mereka yang kurang percaya atau ragu bahwa nabi Isa telah mengutus utusan kepasa mereka. Karena itu memakai satu huruf ta’kid untuk memperkuat pernyatan mereka. Tapi penduduk negeri yang menerima mereka, bukannya percaya, malah sebaliknya bertambah ingkar. Oleh karenanya pada redaksi yang kedua para utusan itu memakai tiga huruf ta’kid sekaligus yaitu sumpah (ربنا) dan huruf (إنا.dan ل)
Kedua, Ilmu Bayan, bagian dari ilmu balaghah yang mengkaji tata cara menyampaikan pesan kepada audiens dengan ungkapan yang tepat, singkat tetapi jelas dan kandungan maknanya luas. Dalam bidang ini yang menjadi obyek bahasan adalah tasybih, majaz, isti'arah, kinayah dan tamtsil. Contoh QS. al-Baqarah (2): 261
•
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Terhadap ayat di atas kita dapat lihat sebuah contoh dari pengungkapan tasybih, yakni orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah diumpamakan dengan sebutir benih (yang ditanam) dari bulir tersebut akan tumbuh lagi tujuh bulir dan di setiap bulirnya terdapat seratus biji.
Dalam QS.al-Rahman (55): 56-58:
"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan."
Dalam ayat di atas, Allah menyerupakan bidadari-bidadari yang tinggal di dalam syurga dengan permata yaqut dan marjan. Titik keserupaannya adalah pada kemurnian dan kecemerlangannya. Jika diurai, maka ayat di atas berstruktur: قصرات الطرف adalah musyabbah, الكاف adalah adat al-tasybih, الياقوت و المرجان adalah musyabbah bih, dan wajhu syabah adalah sama-sama murni dan cemerlang.
Yang ketiga Ilmu Badi' yang pengkajiaannya berkenaan dengan keindahan bahasa, baik dari segi keindahan secara lafdzi (Muhassinat al-Lafdziy) maupun keindahan ma'nawi (Muhassinat al-Ma'nawiy). Sebagi contoh:
QS. al-Rum (30): 55:
"Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa; mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja)".
Terdapat dua kata yang sejenis, namun artinya berbeda yakni kata "al-Sa'at" yang pertama bermakna hari kiamat dan yang kedua bemakna waktu terbatas.
Contoh lain yang masuk dalam kategori al-Saja' QS. al-Ikhlas 1-4:
•
" Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa.Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."
C. Interpretasi Linguistik dalam Kajian Hermeneutika
Munculnya kemudian hermeneutika sebagai metode baru dalam penafsiran dengan teori-teori sosial dan kritik sejarahnya ternyata tidak serta merta mengeliminir aspek kebahasaan (interpretasi linguistic), sebab di antara pengertian hermeneutika yang berkembang di era modern, metodologi filologi dan pemahaman linguistic termasuk dalam cakupan pengkajiannya.
Schleirmacher mengungkapkan, sebagaimana yang dikutip oleh Sumaryono, bahwa ada dua tugas sentral hermeneutika yang identik satu sama lainnya, yaitu interpretasi gramatikal dan psikhologis. Bahasa gramatikal merupakan syarat berpikir setiap orang, sementara interpretasi psikhologis memungkinkan seseorang menangkap "setitik cahaya" pribadi pengarang.
Dengan demikian, pada dasarnya hermeneutika berkaitan erat dengan bahasa, yang diungkapkan baik melalui pikiran, wacana, maupun tulisan. Sehingga hermeneutika dapat dikatakan sebagai cara baru untuk "bergaul" dengan bahasa.
Akan pentingnya peran kebahasaan sebagai sarana untuk memahami wahyu (al-Qur'an), Muhammad 'Ata al-Sid mengungkapkan bahwa "sekalipun terdapat banyak disiplin dan jenis pengetahuan –yang terpakai utuk mendekati al-Qur'an- pengetahuan tentang bahasa (Arab) bersifat elementer dan harus mendahului segala hal lain.." Muhammad 'ata al-Sid juga menekankan untuk terus mencari dan menggali bahasa Arab asli yang terdapat dalam puisi dan prosa pra Islam, menguasai bahasa Arab bukan hanya penggunaannya saat ini, namu juga dalam bentuknya yang asli ketika wahyu diturunkan. Sebagaimana yang pernah dinasihatkan oleh Umar ibn Khatab kepada kaum muslimin agar mereka menjaga dan memperhatikan warisan pra Islam, bahwa "syair-syair 'Arablah yang menjadikan kalian bisa menjelaskan kitabmu (al-Qur'an) dan makna pebicaraanmu", demikian pula riwayat dari Ibn 'abbas: "syair adalah literature Arab. Jika terdapat kata dalam al-Qur'an yang diwahyukan kepada mereka (Arab pra Islam) tidak jelas, kemi merujuk balik kepada literature mereka untuk mencari penjelasannya". Komaruddin Hidayat juga menambahkan bahwa " adalah keistimewaan teks al-Qur'an yang sulit ditandingi oleh kitab suci lain mengingat autentisitas dan keunggulan bahasanya yang masih bisa dilacak ke masa lalu sehingga peristiwa sabda bisa dihadirkan dan dikonstruksikan lagi bagi kaum muslimin modern".
Pentingnya penuguasaan bahasa ini dikemukakan oleh Muhammad 'Ata al-Sid dalam rangka memperkenalkan metodologi hermeneutika al-Qur'an. Sebuah metodologi yang senantiasa berlangsung sebagai proses hermeneutis al-Qur'an sehingga pengikutnya tidak terbatas pada periode sejarah tertentu.
Dari penjelasan di atas, penulis menilai bahwa metodologi dengan bentuk apapun yang terpakai dalam menafsirkan sebuah kalimat terutama terhadap teks kitab suci senantiasa meletakkan peranan kebahasaan sebagai titik awal dalam mendekati sebuah permaknaan. Namun demikian, perlu untuk diperhatikan adalah interpretasi bahasa hanyalah sebagai pengantar dan alat untuk mengungkap makna lebih mendalam dan jangan sampai menjadi tujuan akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar